Lalu apa yang aku cari di dunia
Aku berpikir
Mengapaku terlahir disini
Apa yang harus aku lakukan setelah ada disini
Aku bingung
Melihat semua kepala yang sama
Namun dengan semua pemikiran
Dan tingkahnya yang kacau
Melihat namun tak mampu menatap
Apa yang bisa aku lakukan disini
Aku bisa melihat hal seperti ini
Susahkah damai bersahabat dengan ku
Atau mungkin ia juga jenuh
Tentang semua yang terjadi
Diary Laksmi
Kamis, 29 September 2016
Jenuh
Minggu, 21 Agustus 2016
Hidup
Hari ini mungkin aku tersenyum
Bahkan aku tidak tau sampai kapan senyum ini akan bertahan
Mungkin yang mereka lihat aku tertawa
Namun sebenarnya adalah yang tak sebenarnya
Dan itulah yang terjadi hari ini
Aku hanya manusia
Sama seperti mereka
Yang menjalani hidup seadanya
Dan tidak tau dengan cara apa Tuhan akan memanggil jiwa
Sementara aku hanya ingin mencari kedamaian
Dimana hanya dia yang bisa aku andalkan disaat seperti ini
Ya, kedamaianlah yang paling sulit aku temukan
Hingga saat ini juga
Aku bingung kemana aku harus pergi
Dengan apa aku melangkah
Namun aku bosan untuk berhenti dan berpijak
Saat ini pula aku bigung dengan apa yang harus aku lakukan
Oh, Tuhan
Seburuk apa karma yang kuperbuat terdahulu
Hingga kini aku tak dapat menikmati nafas itu lagi
Sudahlah
Ini yang harus aku bayar agar esok ketika hidup kembali
Aku tak akan melalui ini lagi
Sabtu, 18 Juni 2016
Aku Sudah Letih
Selalu seperti ini
Aku tidak pernah dibiarkanNya memilih
Selalu ku dibuat sakit atas pilihanku
Perih entah apa yang aku rasakan
Hingga aku sudah lelah untuk menghapal perasaanku
Berusaha menutup telinga
Dari banyaknya anjing meraung
Berusaha berjalan tanpa melihat
Walaupun aku tau banyak mata termasuk semut sedang menertawakanku
Kenapa diriMu tidak pernah membiarkan aku memilih kebahagiaanku
Selalu saja begini
Jelas saja orang berteriak ego padaku
Entah dari sisi mana mereka melihat
Tapi aku tak pernah menolak
Semua perintahMu
Kadang inginku berteriak
Mengapa aku selalu salah
Padahal aku selalu ingin mengamalkan perintah Mu itu
Sekarang ini yang Kau beri
Haruskah aku mengeluh dari teriakan semu anjing jalanan itu
Mengeluh atas ketakutan yang mereka teriakkan
Mengolah diriku agar tetap berada di posisi yang salah
Haruskah aku menangis atas hal itu
Ya, aku sudah sangat letih atas semua itu
Sedetikpun tak Kau biarkan aku meraih senyumku
Sampai kapan semua ini berakhir
Sandiwara apa lagi yang menjadi takdirku
Jujur, aku sudah lelah menikmati semua
Minggu, 03 April 2016
Aku Kehilangan
Kau getarkan aku dengan segala kuasamu
Membuat diriku bagaikan daun tua yang mudah jatuh dan rapuh
Menggemakan deruan ombak yang menyesakkan hati
Seakan aku hidup sendiri di dalam rumah tak bertuan
Kemana larinya anjing yang selalu melindungi diriku dari hempasan angin pikuk
Kemana perginya burung yang setiap pagi bernyanyi indah menemani sarapanku
Semua telah terkubur entah di dalam pekarangan siapa
Aku lelah mencarinya
Kini ku melangkah tanpa harus melihat
Mataku mulai remang memandang ke depan
kakiku mulai tertatih untuk berjalan
Dan aku
Aku tidak sanggup lagi melangkah
Aku terjatuh dan terbuang
Entah sampai kapan aku harus terpuruk
Meratapi keadilanMu yang tak kunjung tiba kulihat
Kini aku bagaikan batu yang sulit untuk berpindah
Jika tak ada yang mengambil dan membawaku
Maka aku tetaplah disini
Tanpa arah dan selalu menjadi yang tak terlihat
Rabu, 19 Agustus 2015
Jembatan Dilema
Aku berdiri di tengah-tengah jembatan itu
Kini aku memulai bukan dari ujung lagi
Melainkan aku akan menuju ujung itu
Tapi yang kubingungkan ke ujung mana harus ku langkahkan kakiku?
Berdiri ku termenung menatap langit
Sedari hujan turun tadi
Aku ikut basah terhanyut merasakan sedihnya alam
Menyaksikan muramnya langit
Bergumamku merasakan dingin
Di jembatan ini aku sendiri
Sedang di kedua ujung ada orang menanti
Jika ku menuju ujung itu aku akan melihat orangtuaku tersenyum
Sedang di ujung sana aku melihat kekasihku yg rindu padaku
Oh tuhan, di waktu ku yang sama
Akankah aku bisa merangkul mereka
Yang berdiri di ujung berbeda
Untuk tetap berada dalam dekapanku
Mengapa kau berikan aku pilihan yang sulit
Dan apakah aku berdiam disini saja sampai mereka yang datang menghampiriku?
Selasa, 18 Agustus 2015
Adilkah?
Dunia begitu tidak adil bagiku
Begitu saja ia buang jauh perasaanku
Membuang segala ucapku
Melunturkan semua janjiku
Ini semacam puzzle bagiku
Dengan mudah dunia menyatukan
Dan dengan doa, dunia membongkarnya
Hancur hingga tak berbentuk lagi
Tak ada yang bisa di deskripsikan lagi
Aku bingung dan aku hancur
Padahal aku lah yang menjadi kunci
Tapi mengapa aku yang sakit
Aku sudah terlanjur jatuh
Merasa seperti binatang jalang
Yang tak pantas diam bahkan di tempat sampah sekalipun
Diusir dan tidak berguna lagi
Tuhan kini benar-benar melemahkanku
Mungkin Ia telah murka padaku
Hingga perasaanku dipermainkan
Aku pun tidak tau arah
Sekarang aku haru pergi dan mengadu pada siapa?
Minggu, 16 Agustus 2015
Jeritan Gadis Berkasta
Entah dengan siapa aku harus berbagai sebuah dilema ini. Maaf ya blogger, aku harus menuangkan segala perasaanku disini. Ya hanya disini.
Aku ini hidup di Bali yang merupakan sebuah tempat yang sangat kental dengan kebudayaannya. Termasuk budaya warna nya. Seperti Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra. Aku terlahir di keluarga berwarna Ksatria, yaitu Gusti.
Pernah suatu ketika, saat aku mulai tumbuh remaja orangtua selalu memberiku wejangan agar suatu saat nanti, menikahlah dengan warna yang sama. Agar suatu saat nanti ketika orangtua mu mati nanti, kamu masih bisa menyembahnya.
Namun seiring waktu berjalan, aku semakin tidak mendengar peringatan orangtuaku. Aku selalu jatuh hati pada warna sudra. Namanya cinta, siapa tau akan jatuh kepada siapa, bukan? Suatu saat aku menjalin kasih dengan pria itu. Hingga aku menjadi orang yang dewasa seperti ini, aku sayang padanya. Dan aku mulai teringat dengan peringatan orangtuaku.
Mungkin jaman sekarang, apalah arti sebuah nama. Namun, leluhur kami masih sangat menghargai budaya itu. Aku mulai bimbang ketika restu orangtua sudah tidak brrpihak padaku. Kehilangan restu adalah jalan buntu bagiku. Tidak akan srlamat ketika aku melawan orangtuaku. Namun bagaimana dengan cintaku?
Aku hanya selalu berdoa. Agar Tuhan selaly memudahkan jalanku. Aku tidak ingin berjalan tanpa restu. Dan aku tidak ingin ketika nanti orangtuaku tiada, aku tidak bisa menyembah nya dan disebut durhaka. Aku hanya tidak mau disebut seperti itu. Namun aku tidak bisa meninggaljan cintaku begitu saja.
Tolonglah. Aku tidak pernah meminta terlahir jadi manusia yg menyakiti orang lain. Apa yang harus aku perbuat??? Adakah yang bisa menolongku ?