Rabu, 19 Agustus 2015

Jembatan Dilema

Aku berdiri di tengah-tengah jembatan itu
Kini aku memulai bukan dari ujung lagi
Melainkan aku akan menuju ujung itu
Tapi yang kubingungkan ke ujung mana harus ku langkahkan kakiku?

Berdiri ku termenung menatap langit
Sedari hujan turun tadi
Aku ikut basah terhanyut merasakan sedihnya alam
Menyaksikan muramnya langit
Bergumamku merasakan dingin

Di jembatan ini aku sendiri
Sedang di kedua ujung ada orang menanti
Jika ku menuju ujung itu aku akan melihat orangtuaku tersenyum
Sedang di ujung sana aku melihat kekasihku yg rindu padaku

Oh tuhan, di waktu ku yang sama
Akankah aku bisa merangkul mereka
Yang berdiri di ujung berbeda
Untuk tetap berada dalam dekapanku
Mengapa kau berikan aku pilihan yang sulit
Dan apakah aku berdiam disini saja sampai mereka yang datang menghampiriku?

Selasa, 18 Agustus 2015

Adilkah?

Dunia begitu tidak adil bagiku
Begitu saja ia buang jauh perasaanku
Membuang segala ucapku
Melunturkan semua janjiku

Ini semacam puzzle bagiku
Dengan mudah dunia menyatukan
Dan dengan doa, dunia membongkarnya
Hancur hingga tak berbentuk lagi

Tak ada yang bisa di deskripsikan lagi
Aku bingung dan aku hancur
Padahal aku lah yang menjadi kunci
Tapi mengapa aku yang sakit

Aku sudah terlanjur jatuh
Merasa seperti binatang jalang
Yang tak pantas diam bahkan di tempat sampah sekalipun
Diusir dan tidak berguna lagi

Tuhan kini benar-benar melemahkanku
Mungkin Ia telah murka padaku
Hingga perasaanku dipermainkan
Aku pun tidak tau arah
Sekarang aku haru pergi dan mengadu pada siapa?

Minggu, 16 Agustus 2015

Jeritan Gadis Berkasta

Entah dengan siapa aku harus berbagai sebuah dilema ini. Maaf ya blogger, aku harus menuangkan segala perasaanku disini. Ya hanya disini.

Aku ini hidup di Bali yang merupakan sebuah tempat yang sangat kental dengan kebudayaannya. Termasuk budaya warna nya. Seperti Brahmana, Ksatria, Waisya, Sudra. Aku terlahir di keluarga berwarna Ksatria, yaitu Gusti.

Pernah suatu ketika, saat aku mulai tumbuh remaja orangtua selalu memberiku wejangan agar suatu saat nanti, menikahlah dengan warna yang sama. Agar suatu saat nanti ketika orangtua mu mati nanti, kamu masih bisa menyembahnya.

Namun seiring waktu berjalan, aku semakin tidak mendengar peringatan orangtuaku. Aku selalu jatuh hati pada warna sudra. Namanya cinta, siapa tau akan jatuh kepada siapa, bukan? Suatu saat aku menjalin kasih dengan pria itu. Hingga aku menjadi orang yang dewasa seperti ini, aku sayang padanya. Dan aku mulai teringat dengan peringatan orangtuaku.

Mungkin jaman sekarang, apalah arti sebuah nama. Namun, leluhur kami masih sangat menghargai budaya itu. Aku mulai bimbang ketika restu orangtua sudah tidak brrpihak padaku. Kehilangan restu adalah jalan buntu bagiku. Tidak akan srlamat ketika aku melawan orangtuaku. Namun bagaimana dengan cintaku?

Aku hanya selalu berdoa. Agar Tuhan selaly memudahkan jalanku. Aku tidak ingin berjalan tanpa restu. Dan aku tidak ingin ketika nanti orangtuaku tiada, aku tidak bisa menyembah nya dan disebut durhaka. Aku hanya tidak mau disebut seperti itu. Namun aku tidak bisa meninggaljan cintaku begitu saja.
Tolonglah. Aku tidak pernah meminta terlahir jadi manusia yg menyakiti orang lain. Apa yang harus aku perbuat??? Adakah yang bisa menolongku ?

Kamis, 23 Juli 2015

Prosesku Dewasa

Hey blogger, salam damai ya.

Sekarang aku mau share tentang pentingnya arti kekecewaan untuk kematangan pikiran.
Kalian pernah ngerasain kecewa itu gimana rasanya? Ya, bener banget. Sakit.
Aku pernah menjalin hubungan dengan seseorang, sebut saja namanya Aldi. Kami menjalin hubungan yg berstatus kekasih selama 1 tahun 5 hari. Selama 8 bulan kami bertemu, kami merasakan suka duka yang amat sangat mendalam. Kami saling sayang. Kami saling mengasihi. Dan kamipun merasa sedih apabila satu dari kami merasakan sakit.
Pernah suatu hari, aku pergi ke sekolah pendidikan yang berikatan dinas dengan kenegaraan. Dan aku menjalani pendidikan itu selama 7 bulan. Sangat menyakitkan bagi kami untuk menjalani kisah ini. Ya, kami harus terpisah selama itu.
Tepat di hari ulangtahunnya, ya 25 Mei 2014 lalu. Aku tetakhir bertemu dengannya sebelum keberangkatanku. Kami melepas rindu sekaligus mengucapkan salam perpisahan untuk pergi. Sebenarnya, aku kurang ikhlas harus meninggalkan dia saat itu. Apaboleh buat, aku harus mencapai masa depanku itu.
Tanggal 29 September 2013 adalah hari jadi kami. Setelah 5 bulan aku menjalankan pendidikan, tepat tgl 4 Oktober 2014, aku dan dia berpisah. Dengan sebab yg menurutnya banyak yg berubah dariku. Aku sedih, merasa kecewa, merasa rendah. Tidak dapat aku ungkapkan hal itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari dia yg begitu saja telah menyianyiakan aku. Mungkin sikapku menjadi lebih dingin setelah itu. Sampai sekarang "Aldi" tetaplah yg terbaik.
Setelah tamatpun aku mencoba untuk melupakan Aldi. Namun sangat susah bagiku Karna begitu banyak kenangan yg kubuat bersamanya. Hingga akhirnya aku mendapatkan kabar, bagaimana dia telah dekat dengan seseorang.
Komitmenku pun goyah. Setelah putus darinya, komitmenku tidak berpacaran selama masa dinas. Akhirnya kandas. Aku mencoba untuk dekat dengan pria lain. Tapi apa? Aku dikecewakan kembali.
Sebut saja dia Ray. Ray adalah kakak tingkatku di kedinasan. Dia mendekatiku, padahal dia sudah punya kekasih. Aku hanya tidak mau menyakiti wanitanya. Aku tertipu namun keberuntungan memihakku. Aku belum sampai berpacaran dengan Ray. Namun beberapa saat kemudian, aku dihibur oleh laki-laki yg baru saja mulai Ku sayang. Anggap saja dia Bagas. Bagas bercerita tentang kenapa dia putus dengan pacarnya. Bagas ini satu angkatan denganku. Kami melakukan pendekatan selama 1 bulan lebih. Aku suka padanya tetapi saat itu belum sayang. Tepat 27 April 2015, dia menyatakan cinta padaku. Karna aku mau mencoba untuk melupakan Aldi dan juga Ray, aku menerima Bagas dengan hati terbuka.
Ya, ketika itu kami sangat mesra. Banyak yg bilang dan mendoakan agar kami awet sampai tua. Tapi apa daya, dia menipuku juga. Ternyata, dia mencariku karna alasan mempertahankan profesi. Dia masih sayang pada bekas kekasihnya. Tepat tgl 6 Juli 2015, aku memutuskan untuk mengkahiri hubunganku. Padahal aku baru saja mulai mencintainya. Sakit, kecewa, perih. Tapi itu namanya proses. Dan aku berusaha tegar dan dewasa. Aku mencoba untuk agar Bagas dan kekasihnya kembali lagi. Akhirnya mereka sekarang bahagia.
Aku? Kini sendirian mencari ketenangan semata. Mencoba merenung, bagaimana aku harus bersikap agar tidak teledor lagi dalam hal memilih.
Hikmahnya, mungkin rasa sakit ini memang harus aku dapatkan. Karena, tanpa proses ini aku tidak akan bisa berpikir lebih matang lagi ke depannya.