Hey blogger, salam damai ya.
Sekarang aku mau share tentang pentingnya arti kekecewaan untuk kematangan pikiran.
Kalian pernah ngerasain kecewa itu gimana rasanya? Ya, bener banget. Sakit.
Aku pernah menjalin hubungan dengan seseorang, sebut saja namanya Aldi. Kami menjalin hubungan yg berstatus kekasih selama 1 tahun 5 hari. Selama 8 bulan kami bertemu, kami merasakan suka duka yang amat sangat mendalam. Kami saling sayang. Kami saling mengasihi. Dan kamipun merasa sedih apabila satu dari kami merasakan sakit.
Pernah suatu hari, aku pergi ke sekolah pendidikan yang berikatan dinas dengan kenegaraan. Dan aku menjalani pendidikan itu selama 7 bulan. Sangat menyakitkan bagi kami untuk menjalani kisah ini. Ya, kami harus terpisah selama itu.
Tepat di hari ulangtahunnya, ya 25 Mei 2014 lalu. Aku tetakhir bertemu dengannya sebelum keberangkatanku. Kami melepas rindu sekaligus mengucapkan salam perpisahan untuk pergi. Sebenarnya, aku kurang ikhlas harus meninggalkan dia saat itu. Apaboleh buat, aku harus mencapai masa depanku itu.
Tanggal 29 September 2013 adalah hari jadi kami. Setelah 5 bulan aku menjalankan pendidikan, tepat tgl 4 Oktober 2014, aku dan dia berpisah. Dengan sebab yg menurutnya banyak yg berubah dariku. Aku sedih, merasa kecewa, merasa rendah. Tidak dapat aku ungkapkan hal itu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari dia yg begitu saja telah menyianyiakan aku. Mungkin sikapku menjadi lebih dingin setelah itu. Sampai sekarang "Aldi" tetaplah yg terbaik.
Setelah tamatpun aku mencoba untuk melupakan Aldi. Namun sangat susah bagiku Karna begitu banyak kenangan yg kubuat bersamanya. Hingga akhirnya aku mendapatkan kabar, bagaimana dia telah dekat dengan seseorang.
Komitmenku pun goyah. Setelah putus darinya, komitmenku tidak berpacaran selama masa dinas. Akhirnya kandas. Aku mencoba untuk dekat dengan pria lain. Tapi apa? Aku dikecewakan kembali.
Sebut saja dia Ray. Ray adalah kakak tingkatku di kedinasan. Dia mendekatiku, padahal dia sudah punya kekasih. Aku hanya tidak mau menyakiti wanitanya. Aku tertipu namun keberuntungan memihakku. Aku belum sampai berpacaran dengan Ray. Namun beberapa saat kemudian, aku dihibur oleh laki-laki yg baru saja mulai Ku sayang. Anggap saja dia Bagas. Bagas bercerita tentang kenapa dia putus dengan pacarnya. Bagas ini satu angkatan denganku. Kami melakukan pendekatan selama 1 bulan lebih. Aku suka padanya tetapi saat itu belum sayang. Tepat 27 April 2015, dia menyatakan cinta padaku. Karna aku mau mencoba untuk melupakan Aldi dan juga Ray, aku menerima Bagas dengan hati terbuka.
Ya, ketika itu kami sangat mesra. Banyak yg bilang dan mendoakan agar kami awet sampai tua. Tapi apa daya, dia menipuku juga. Ternyata, dia mencariku karna alasan mempertahankan profesi. Dia masih sayang pada bekas kekasihnya. Tepat tgl 6 Juli 2015, aku memutuskan untuk mengkahiri hubunganku. Padahal aku baru saja mulai mencintainya. Sakit, kecewa, perih. Tapi itu namanya proses. Dan aku berusaha tegar dan dewasa. Aku mencoba untuk agar Bagas dan kekasihnya kembali lagi. Akhirnya mereka sekarang bahagia.
Aku? Kini sendirian mencari ketenangan semata. Mencoba merenung, bagaimana aku harus bersikap agar tidak teledor lagi dalam hal memilih.
Hikmahnya, mungkin rasa sakit ini memang harus aku dapatkan. Karena, tanpa proses ini aku tidak akan bisa berpikir lebih matang lagi ke depannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar