“Namaku
Ayastari Permata Dewi. Panggil saja aku Ayas. Aku adalah seorang gadis
yang terlahir dari seorang wanita yang kini sudah separuh baya. Perlukah
kau tahu bahwa ayahku itu siapa? Ku rasa tidak. Untuk apa aku mengingat
dirinya yang sudah menelantarkan anak istrinya. Lagi pula semenjak aku
lahir, dia bukanlah seorang ayah bagiku. Aku begini juga karena ulahnya.
Aaaaaaahhhhh!! Dia tak pantas disebut sebagai suami dari wanita yang
telah melahirkanku. Dari wanita yang kusebut ibu. Sungguh malang dirimu,
Ibu. Kau hanya seorang diri menjadi topangan bagi ku.”
Aku jadi teringat tentang sesuatu. “Ayas anak ibu yang manis, gak boleh nakal ya sayang”. Huh! Aku selalu
ingat Ibu. Ketika aku masih kecil, hanya ibu yang mau membelikan aku
tiga balon berwarna pelangi. Hanya menangis yang bisa aku lakukan ketika
ibu tidak menurutiku. “Bu, Ayas pingin sekolah seperti mereka. Kapan ya bu? Ayas kan pingin pinter. Ayas mau jadi dokter. Supaya Ayas bisa ngobatin ibu” lalu ibupun mendekapku yang masih cadel itu dengan erat. Mengapa aku selalu menangis ketika mengingat ibu, Tuhanku?
Ibuku selalu ingin yang terbaik untukku. Yah, namanya juga orangtua.
Pasti selalu ingin anaknya menjadi yang terbaik. Ketika ibu bernyanyi,
saat itu juga hatiku tersentuh mendengar suaranya. Sampai ku tahu, dia
adalah orang yang ku idolakan. Bagaimana tidak? Hanya ibuku yag selalu
ingat dengan ulang tahunku. Akupun tak peduli kapan aku lahir. Terbayang
lagi saat-saat itu. “Happy
birthday Ayas, Happy birthday Ayas, Happy birthday, Happy birthday,
Happy birthday Ayas… ayas anak ibu sudah besar. Sini Ayas, peluk ibu.
Ibu sayang kamu. Ibu berharap supaya kamu bisa menjadi sukses dikelak
kamu dewasa. Dan sekarang usiamu sudah 17 tahun, nak. Ibu rasa, sudah
saatnya kamu tahu yang sebenarnya. Ibu berharap kamu tak akan membenci
ibu mu ini sebagai wanita yang telah meahirkanmu, nak”. Aku heran. Saat itu ibu sudah meneteskan saja air matanya itu. “Ayas
sayang, ibu..ibu.. sebenarnya ibu sudah lama mengidap penyakit ini.
Semenjak ibu sakit, ibu sudah mengikhlaskan dia untuk yang lebih pantas
dariku, nak”. Sunguh, ibuku adalah wanita yang mulia. Aku terkesiap mendengar ceritanya. “Ibu, aku tak ingin tahu itu. Karena yang ingin ku tahu selamanya, bahwa dirimulah yang selalu setia merawatku” tangisanku mengalir di dalam pelukkannya.
“Bukan
itu maksud ibu, sayang. Mungkin sebentar lagi ibu akan pergi. Kamu
lihat album biru ini sayang. Disini ada ayahmu. Ada juga opa dan oma mu.
Ibu hanya ingin Ayas kenal dengan mereka”. Lalu apa yang ku katakan? “Kemana
mereka bu? Ibu, Aku tak ingin mengeal mereka. Disaat aku haus dengan
cinta mereka, apa mereka pernah mempedulikanku? Tidak! Aku tidak mau
megenal mereka! Sudah terlanju sakit hati ini, bu” Tapi yang
dilakukan ibu hanya diam. Dia tak meresponku sama sekali. Ia hanya
membisu dan kemudian meninggalkanku di kamar dengan ditinggalkannya
album biru itu disisiku. Nampaknya ibu menangis lagi. Selalu menangis.
Ayah, Oma, Opa. Siapalah mereka, aku tidak tahu! Yang jelas aku benci mereka. “ppyyyaaannnggg..”
Aku ingat jelas suara yang mengagetkan itu. Kalian pasti tahu apa yang
aku pikirkan saat aku mendengar suara piring pecah itu. Ya, Ibu. Ibu lah
yang aku pikirkan. Dan ketika aku melihat ibuku, ia sudah tergeletak
lemas tak berdaya lagi. “Ibu…bangun ibu. Ibu…jangan pergi”. Ku peluk dirinya erat. Aku masih menangis di pelukan terakhirnya. Dan
ku masih tak mengerti, mengapa dunia tidak pernah adil padaku. Kemana
kasih hujan yang setiap malam menemaniku? Aku mulai merasakan sendiri di
musim kemarau.
Tak
ku pandang seberapa panjang jalan yang harus ku lalui. Kapan lagi aku
mengabdi pada ibu, kalau tidak dihari tenangnya yang terakhir? Yah, aku
membawanya ke pemakaman itu sendiri. Hanya sendiri. Di pusara sana hanya
diriku seorang. Hhmmm.. mungkin berdua dengan jazad ibuku. Hahaha…!!!
Dengan tanganku sendiri jazad ibu ku terkuburkan. Sejenak aku terdiam.
Aku berpikir dua kali untuk mengindahkan permintaan terakhir ibu. Sampai
akhirnya aku membuka kembali album biru yang sudah usang itu. Waw,
mengejutkan! Ada secarik kertas berisi tulisan seperti alamat. Aku tidak
tahu itu untuk apa. Mungkin ini petunjuk pertama. Ya itulah yang aku
pikirkan saat itu. Tak menunggu lama lagi. Langsung saja ku pergi
mencari dimana alamat itu. Setelah aku merasakan seperti berkeliling
dunia, aku menemui rumah tua yang sangat luas di pinggiran jalan yang
terpencil. Ku beranikan diri pergi ke sana dan ku mengetuk pintu rumah
itu. Sesampaiku disana, ada seorang pria menghampiriku dengan kursi
rodanya yang sudah tua. Sepintas ia mirip dengan orang yang ada di dalam
album itu. Dan… “Ayas? Benarkah ini kau?”
aku kaget ketika ia memanggil namaku dan mencium tanganku secara
tiba-tiba sambil mengeluarkan air mata. Ya, tingkahku yang spontan ini
membuat pria itu mejadi kaget. “Kenapa
Ayas? Kamu tidak mengenalku? Ternyata kamu sudah tumbuh menjadi seorang
gadis…kamu cantik sekali. Persis sekali seperti ibumu. Kemana dia? Aku
tidak melihatnya dari tadi?”. Aku jadi semakin yakin bahwa dia itu adalah ayahku. “Maaf , pak. Saya memang benar Ayas. Apa bapak kenal juga dengan ibu saya?” terpaksa sekali aku memancing pertanyaan itu. “Anakku”
begitu yang ia katakan. Singkat dan menusuk hati. Mengapa ia dengan
gampangnya mengakui diriku sebagai anaknya? Padahal dia saja tidak
pernah mempedulikanku. Tapi, saat itu aku menatap matanya yang sudah
mulai redup itu. Terlihat nampak cahaya penyesalan yang berbinar disana.
Aku hanya diam. Karena aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan.
Apakah aku harus senang, sedih, marah, rindu, kangen? Ataukah aku
seorang anak yang durhaka karena telah membencinya? Kalian bisa tebak
bagaimana perasaanku. Sakitnya, marahnya, dan rindunya hati ini pada
ayah. Akhirnya ku berlutut. “Ayah, bisakah kita bicara di dalam? Lagi pula ayah juga sedang terlihat tidak enak badan. Aku bawa ayah ke dalam ya, yah”. Yasudah. Kami pergi ke dalam rumah tua itu yang penuh dengan kenangan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar