Selasa, 25 September 2012

Di Balik Album Biru Usang

“Namaku Ayastari Permata Dewi. Panggil saja aku Ayas. Aku adalah seorang gadis yang terlahir dari seorang wanita yang kini sudah separuh baya. Perlukah kau tahu bahwa ayahku itu siapa? Ku rasa tidak. Untuk apa aku mengingat dirinya yang sudah menelantarkan anak istrinya. Lagi pula semenjak aku lahir, dia bukanlah seorang ayah bagiku. Aku begini juga karena ulahnya. Aaaaaaahhhhh!! Dia tak pantas disebut sebagai suami dari wanita yang telah melahirkanku. Dari wanita yang kusebut ibu. Sungguh malang dirimu, Ibu. Kau hanya seorang diri menjadi topangan bagi ku.”

     Aku jadi teringat tentang sesuatu. “Ayas anak ibu yang manis, gak boleh nakal ya sayang”. Huh! Aku  selalu ingat Ibu. Ketika aku masih kecil, hanya ibu yang mau membelikan aku tiga balon berwarna pelangi. Hanya menangis yang bisa aku lakukan ketika ibu tidak menurutiku. “Bu, Ayas pingin sekolah seperti mereka. Kapan ya bu? Ayas kan pingin pinter. Ayas mau jadi dokter. Supaya Ayas bisa ngobatin ibu” lalu ibupun mendekapku yang masih cadel itu dengan erat. Mengapa aku selalu menangis ketika mengingat ibu, Tuhanku?

     Ibuku selalu ingin yang terbaik untukku. Yah, namanya juga orangtua. Pasti selalu ingin anaknya menjadi yang terbaik. Ketika ibu bernyanyi, saat itu juga hatiku tersentuh mendengar suaranya. Sampai ku tahu, dia adalah orang yang ku idolakan. Bagaimana tidak? Hanya ibuku yag selalu ingat dengan ulang tahunku. Akupun tak peduli kapan aku lahir. Terbayang lagi saat-saat itu. “Happy birthday Ayas, Happy birthday Ayas, Happy birthday, Happy birthday, Happy birthday Ayas… ayas anak ibu sudah besar. Sini Ayas, peluk ibu. Ibu sayang kamu. Ibu berharap supaya kamu bisa menjadi sukses dikelak kamu dewasa. Dan sekarang usiamu sudah 17 tahun, nak. Ibu rasa, sudah saatnya kamu tahu yang sebenarnya. Ibu berharap kamu tak akan membenci ibu mu ini sebagai wanita yang telah meahirkanmu, nak”. Aku heran. Saat itu ibu sudah meneteskan saja air matanya itu. “Ayas sayang, ibu..ibu.. sebenarnya ibu sudah lama mengidap penyakit ini. Semenjak ibu sakit, ibu sudah mengikhlaskan dia untuk yang lebih pantas dariku, nak”. Sunguh, ibuku adalah wanita yang mulia. Aku terkesiap mendengar ceritanya. “Ibu, aku tak ingin tahu itu. Karena yang ingin ku tahu selamanya, bahwa dirimulah yang selalu setia merawatku” tangisanku mengalir di dalam pelukkannya.

     “Bukan itu maksud ibu, sayang. Mungkin sebentar lagi ibu akan pergi. Kamu lihat album biru ini sayang. Disini ada ayahmu. Ada juga opa dan oma mu. Ibu hanya ingin Ayas kenal dengan mereka”. Lalu apa yang ku katakan? “Kemana mereka bu? Ibu, Aku tak ingin mengeal mereka. Disaat aku haus dengan cinta mereka, apa mereka pernah mempedulikanku? Tidak! Aku tidak mau megenal mereka! Sudah terlanju sakit hati ini, bu” Tapi yang dilakukan ibu hanya diam. Dia tak meresponku sama sekali. Ia hanya membisu dan kemudian meninggalkanku di kamar dengan ditinggalkannya album biru itu disisiku. Nampaknya  ibu menangis lagi. Selalu menangis.

     Ayah, Oma, Opa. Siapalah mereka, aku tidak tahu! Yang jelas aku benci mereka. “ppyyyaaannnggg..” Aku ingat jelas suara yang mengagetkan itu. Kalian pasti tahu apa yang aku pikirkan saat aku mendengar suara piring pecah itu. Ya, Ibu. Ibu lah yang aku pikirkan. Dan ketika aku melihat ibuku, ia sudah tergeletak lemas tak berdaya lagi. “Ibu…bangun ibu. Ibu…jangan pergi”. Ku peluk dirinya erat. Aku masih menangis di pelukan terakhirnya.  Dan ku masih tak mengerti, mengapa dunia tidak pernah adil padaku. Kemana kasih hujan yang setiap malam menemaniku? Aku mulai merasakan sendiri di musim kemarau.

      Tak ku pandang seberapa panjang jalan yang harus ku lalui. Kapan lagi aku mengabdi pada ibu, kalau tidak dihari tenangnya yang terakhir? Yah, aku membawanya ke pemakaman itu sendiri. Hanya sendiri. Di pusara sana hanya diriku seorang. Hhmmm.. mungkin berdua dengan jazad ibuku. Hahaha…!!! Dengan tanganku sendiri jazad ibu ku terkuburkan. Sejenak aku terdiam. Aku berpikir dua kali untuk mengindahkan permintaan terakhir ibu. Sampai akhirnya aku membuka kembali album biru yang sudah usang itu. Waw, mengejutkan! Ada secarik kertas berisi tulisan seperti alamat. Aku tidak tahu itu untuk apa. Mungkin ini petunjuk pertama. Ya itulah yang aku pikirkan saat itu. Tak menunggu lama lagi. Langsung saja ku pergi mencari dimana alamat itu. Setelah aku merasakan seperti berkeliling dunia, aku menemui rumah tua yang sangat luas di pinggiran jalan yang terpencil. Ku beranikan diri pergi ke sana dan ku mengetuk pintu rumah itu. Sesampaiku disana, ada seorang pria menghampiriku dengan kursi rodanya yang sudah tua. Sepintas ia mirip dengan orang yang ada di dalam album itu. Dan… “Ayas? Benarkah ini kau?” aku kaget ketika ia memanggil namaku dan mencium tanganku secara tiba-tiba sambil mengeluarkan air mata. Ya, tingkahku yang spontan ini membuat pria itu mejadi kaget. “Kenapa Ayas? Kamu tidak mengenalku? Ternyata kamu sudah tumbuh menjadi seorang gadis…kamu cantik sekali. Persis sekali seperti ibumu. Kemana dia? Aku tidak melihatnya dari tadi?”.  Aku  jadi semakin yakin bahwa dia itu adalah ayahku. “Maaf , pak. Saya memang benar Ayas. Apa bapak kenal  juga dengan ibu saya?” terpaksa sekali aku memancing pertanyaan itu. “Anakku” begitu yang ia katakan. Singkat dan menusuk hati. Mengapa ia dengan gampangnya mengakui diriku sebagai anaknya? Padahal dia saja tidak pernah mempedulikanku. Tapi, saat itu aku menatap matanya yang sudah mulai redup itu. Terlihat nampak cahaya penyesalan yang berbinar disana. Aku hanya diam. Karena aku tidak tahu apa yang sedang aku rasakan. Apakah aku harus senang, sedih, marah, rindu, kangen? Ataukah  aku seorang anak yang durhaka karena telah membencinya? Kalian bisa tebak bagaimana perasaanku. Sakitnya, marahnya, dan rindunya hati ini pada ayah. Akhirnya ku berlutut. “Ayah, bisakah kita bicara di dalam? Lagi pula ayah juga sedang terlihat tidak enak badan. Aku bawa ayah ke dalam ya, yah”. Yasudah. Kami pergi ke dalam rumah tua itu yang penuh dengan kenangan.   

     “Itu foto pernikahan kami. Aku rindu padanya. Kamu belum menjawab pertanyaan ayah. Kemana ibumu, nak?” Kursi roda yang ku pegang pun akhirnya terdiam. Aku ceritakan saja apa yang sebenarnya terjadi. “Ibu hanya berpesan agar melihat abum biru yang sudah tua ini. Awalnya sebelum kepergian ibu, Aku tidak pernah mau bertemu dengan ayah. Karena ayah tega meinggalkan kami. Ayah tega! Aku benci ayah” spontanitas diriku mengeluarkan kata-kata itu. “Aku menyesal anakku. Baiklah, aku mengaku salah” desahnya. Dan ia lanjutkan bicaranya. “Sebelumnya, izinkan aku menyesal dan membalas semua kesalahanku padamu, nak. Dulu, sewaktu kami menikah, kami diberkati seorang peri kecil. Itu kamu Ayas. Ayah tidak tahu bahwa ibumu mengidap suatu penyakit yang sangat parah”. Ayah terdiam, dan ku lanjutkan percakapan itu. Aku bertanya padanya. “Lantas, mengapa ayah pergi? Pergi meninggalkan kami?” “Ya, itulah kesalahan ayah. Ayah hanya ingin punya anak lagi. Namun, ibumu tidak mengindahkannya. Malah dia menyuruh ayah pergi. Dia bicara padaku bahwa dia tidak bisa lagi menghasilkan keturunan untuk ku, dan kedua orangtuaku. Dengan gampang, ibumu menyuruh ayah menikah dengan wanita lain. Karena ayahmu ini merasa sudah tidak lagi sebagai pria yang dicintai nya, ayah langsung saja pergi meninggalkan kalian. Karena rasa sakit ini”. Aku melihat wajahnya yang mulai melemas. Dan kemudian ia lanjutkan lagi pembicaraanya itu. “Aku katakan padanya, bahwa aku akan menikah lagi. Namun, ayah saat itu hanya emosi. Ayah tidak bisa mencintai wanita lain selain ibumu, Ayas. Karena dendam oma dan opa mu terhadap ibumu, mereka meninggalkan ayah sendiri di gubuk ini. Ayah tidak tahu mereka berada dimana sampai sekarang. Ayah sudah tidak lagi berdaya, anakku”. Walaupun aku benci padanya, tapi cuma dia yang tersisa untukku. Aku tersentuh. Aku berlutut. “Ayah, maafkan aku”. Aku bicara seperti itu ya sambil memeluk dan mencium tangannya. Baru pertama kali aku merasakan dekapan sang ayah, setelah 17 tahun aku tidak mengenal dirinya. Dan aku tak berpikir bahwa itu  adalah hari pertama dan hari terakhirku bertemu dengannya. Tiba-tiba saja ayah meminta sesuatu padaku. “Antarkan aku ke pemakaman!”. Ya, aku hanya bisa mengantarkan ayahku ke tempat tidur terakhir ibu ku. Dimana dia sudah damai  disana. Sampai disana, aku melihat Ayah memandikan pusara dimana tempat istrinya ditempati. Aku sangat merasa bersalah pada ayahku. Sampai saat itu dia tertidur diatas pelukan tanah ibu, aku baru sadar, cintanya pada ibu melebihi cintaku pada ibu. Atau mungkin karena dia merasakan sebuah penyesalan. Aku tidak tahu itu. Ku hampiri ayahku yang tadinya menangis di atas tanah. Dan ku peluk dia.  Saat aku memeluknya, aku tidak tahu bahwa aku sudah kehilangan orang yang baru kutemui. Aku kehilangan lagi. Mungkin cinta ayah yang besar itu membuat nya untuk ingin bertemu dengan ibu disana. Dunia mungkin tak adil bagiku. Tapi ku berusaha tabah, walaupun aku sendiri di dunia, tapi aku yakin mereka berdu akan selalu ada disini. Hahahaha mungkin ini teka-teki yang diberi ibu untukku. Album Biru itu ternyata menyimpan segudang kenangan untuknya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar